Halo Ayah-Bunda. Budaya Tuli itu sebenarnya luas lho. Hal hal yang berkaitan dengan sikap perilaku dan bagaimana persepsi dan perspektif si Tuli dalam memahami sesuatu.

“Misalnya melambaikan tangan. Itu maksudnya gimana?” ucap CEO Parakerja, Rezki Achyana, mencontohkan.

“Kalau misalnya kita orang Dengar memanggil orang lain bisa berteriak, misal Dino sini! atau Dino Halo,” katanya.

baca juga : 7 Tokoh Disabilitas yang Menginspirasi Dunia!

“Tapi kalau orang-orang Tuli kan mereka nggak dengar. Mereka bisa melambaikan tangan untuk menarik perhatian dari teman tuli yang dipanggil,” timpalnya lagi.

Rezki Achyana melanjutkan, budaya Tuli lainnya yaitu kebutuhan untuk cahaya atau mengandalkan visual. Karena orang Tuli untuk berkomunikasi harus di tempat yang terang.

baca juga : Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), Bahasa Isyaratnya Komunitas Tuli

“Orang Tuli di tempat gelap nggak bisa berkomunikasi melihat gerakan isyarat dan ekspresi dari lawan bicara nya,” kata Rezki Achyana.

Budaya Tuli lainnya : orang Tuli kalau berkomunikasi harus berhadapan atau bertatapan. Kalau berdampingan itu nggak bisa atau sulit.

“Kalau lagi ngumpul, mereka posisi nya melingkar sehingga bisa melihat lawan bicara keseluruhan,” imbuhnya.

Budaya Tuli lainnya: jika orang Dengar saat makan kan harus telan dulu makanan yang dimulut. Tapi kalau orang Tuli dengan budaya yang mereka miliki, sambil mengunyah pun nggak apa-apa.

“Karena mengobral nya menggunakan isyarat yang dilakukan gerakan tangan,” terangnya.

Begitu juga kalau berenang. Orang Dengar nggak bisa ngomong dan dengar dalam air. “Tapi kalau orang Tuli dalam airpun bisa ngobrol dengan bahasa isyarat nya,” tutupnya.